Sejarah kebudayaan dan pergolakan sukubangsa Batak, jelas sekali termasuk salah satu baian daripada sejarah kebudayaan dan pergolakan bangsa Indonesia seperti sejarah Melayu, Sriwijaya, pagaruyung Minangkabau, Sunda, Singosari dan Mojopahit (Jawa), Dayak, Bugis, Toraja dan lain sebagainya. Tetapi sayang dewasa ini sejarah dan kebudayaan daripada masing-masing sukubangsa Indonesia masih banyak lagi yang belum dapat di terafkan satu sama lain karena belum tergali atau tersusun; diantaranya selain karena akibat politik kolonialisme Belanda dulu, juga karena akibat revolusi kemerdekaan Indonesia pada masa-masa yang baru lalu.
Sukubangsa Batak sebagai salah satu sukubangsa daripada rumpun Melayu/Indonesia-tua, mungkin termasuk yang tertua di Sumatera khususnya dan di Indonesia umumnya; mempunya arti penting juga dalam sejarah 'kebudayaan-asli' Indonesia.
Sejarah kebudayaan dan pergolakan masing-masing sukubangsa Indonesia memang mempunya titik-titik perbedaan juga sesuai dengan asal usulnya, situasi dan kondisi yang di alami dan dilaluinya dalam peredaran zaman beberapa abad yang telah lampau. Tetapi begitupun di samping perbedaan perbedaan yang dimaksud, lebih banyak lagi titik-titik persamaan dan persatuannya; pengaruh pergaulan dan pengalaman masing-masing di tanah air Indonesia/Nusantara atau dari tempat tanah asalnya semula.
Selama lebih kurang 32 tahun bangsa kita telah merdeka, pembagian Daerah, bentuk susunan dan isi (otonomi) Pemerintahan daerah kita, berdasar permusyawaratan dan asal-usul yang bersifat Istimewa dan lain sebagainya, boleh disebut terus menerus masih mengalami perubahan-perubahan, terutama sekali karena pengaruh kondisi dan situasi politik ditengah-tengah masyarakat Indonesia.
Salah satu sebab sejarah dan kebudayaan sukubangsa Batak belum cukup tergali dan tersusun hingga kini: Pertama yakni karena pengaruh 'Animisme-phobi' yang sengaja ditanam sebagai momok disiang hari oleh sebagian besar penganjur-penganjur Agama yang berkitab suci. Kedua akibat politik kolonial Belanda yang melarang dan mengintimidasi, sesuatu pembicaraan atau penulisan yang obyektif mengenai sejarah dan perjuangan dinasi Tuan/Si Singa Mangaraja. Ketiga karena sejarah dan kebudayaan di kawasan Sumatera Utara dimasa lampau dan sampai kini. umumnya masih kebanyakan berasal dari penulis-penulis asing yang terlalu dipengaruhi kepentingan kolonialisme dan kepentingan penyebaran agama-agama yang berkitab suci, disamping kepentingan Sultan-sultan atau Raja-raja yang diangkat oleh Belanda sebagai kaki tangannya menindas atau menghalangi pergerakan rakyat, menentang kolialisme Belanda.
Penyusunan sejarah dan kebudayaan sukubangsa Batak, memang sudah masanya sekarang digali dan diungkap secara ilmiah terutama bagi generasi penerus, yang sedang memasuki pintu gerbang ekselarasi Modernisasi yang menghadapi berbagai-bagai masalah 'intern dan extern' dewasa ini; dimasa secara jujur harus diakui, bahwa sukubangsa Batak tadinya telah jauh terpencil dan terbelakang dibidang kemajuan modern, akibat 'pengisolasian' diri sendiri, beberapa abad dimasa lampau; demi untuk mempertahankan kebudayaan/keperibadiannya daripada pengaruh-pengaruh dan peradaban yang baru yang dibawa oleh agama Islam (sejak abad ke-13) dan penjajahan belanda dan agama Kristen (sejak abad ke-19).
Pengisolasian sukubangsa Batak baru mulai terbuka, karena kemauan zaman yang tak terelakkan sejak akhir abad ke-19. Dan sebagai status-quo' dalam hal ini ialah setelah tamat perjuanan Si Singa Mangaraja XII secara fisik melawan penjajahan Belanda pada tanggal 17-6-1907. Terhitung dari status-quo tersebut dalam periode lebih kurang ½ abad, sukubangsa Batak telah melompat jauh ke depan dalam bidang kemajuan, terutama jika dibandingkan dengan beberapa sukubangsa Indonesia lainnya. Dan pelompatan yang lebih jauh lagi kedepan, ialah sejak pengakuan kedaulatan Indonesia (terhitung sejak awal tahun 1950).
Kejadian ini bisa saja menimbulkan pertanyaan bagi sementara golongan, apakah tidak di fahami dan disadari apa sebabnya maka bisa terjadi demikian. Kemajuan yang dimaksud sebenarnya tidak perlu menimbulkan pertanyaan. Seorang sarjana anthropologi bangsa kita telah membuat anlisa mengenai hal ini sebagai berikut:
"Faktor yang penting sebab-sebab terjadinya kemjuan yang pesat ini adalah sebagai bukti, bahwa \Dr. Nomensen adalah benar-benar seorang manusia yang mengagumkan, karena pengetahuannya yang baik dan banyak tentang kebudayaan Batak pada umumnya. Bagaimana nilai pengalaman masyarakat kristen Batak, yang senantiasa berpikir sekuat tenaga untuk memperoleh peningkatan cita-citanya. Ini hanya dapat diketahui, apabila setiap orang mencoba mempelajari Kebudayaan Batak".
Sukubangsa Batak umumnya dan Batak Toba khususnya yang bermukim di pusat negeri Toba, secara jujur harus diakui sangat miskin dibidang ekonomi, tetapi sangat kaya dibidang kebudayaan dan falsafah hidup seperti dipaparkan lebih lanjut dalam tulisan ini.
Kalender Batak atau Parhalaan
![]() |
Kalender Batak |
'Parhalaan' (Indonesia = per-kala-an), dimana lebih tua daripada kalender Cina atau Mesir (masih memerlukan penelitian). Parhalaan Batak dihubungkan dengan duduknya 'bulan' dan 'perbintangan'. Hanya disayangkan karena tidak mempunya angka-angka tahun/abad, untuk mengandalkan angka-angka 'sundut' taroombo/silsilah sebagai pengganti angka-angka tahun/abad, maka sukar dipergunakan oleh umum sebagai pegangan penentuan angka tahunan.
Bersambung ke artikel berikutnya yang akan di tulis